Buruh Simoplas : Kami Ingin Beli Baju Lebaran!

Pekerja PT Simoplas gelar unjuk rasa bertelanjang dada menuntut hak mereka (vedyana ardyansah/asatu.id)

SEMARANG‎ (asatu.id) – Puluhan pekerja PT Simoplas bertelanjang dada menggelar demo menuntut kejelasan hak mereka selama bekerja. Demi mendapatkan hak-haknya, para pekerja melakukan long march dari PT Simoplas Jalan Randu Garut, Semarang Utara hingga berakhir di kantor Disnaker Jalan Mangunsarkoro, Kamis (23/2) siang.

Melalui mediasi bersama pihak tripartit dan Disnaker, para pekerja menginginkan penyelesaian persoalan yang selama ini sudah berlarut-larut seperti penggajian yang belum terbayarkan sejak April 2015 serta BPJS Ketenagakerjaan yang sampai sekarang belum bisa diakses.

Kordinator aksi Ahmad Zainudin mengatakan, Lebaran tahun lalu adalah penderitaan yang sangat mereka rasakan kepedihannya. Dengan aksi tersebut mereka ingin segala hak-hak mereka yang masih tertahan bisa segera digunakan untuk memenuhi kebutuhan.

“Kami telanjang dada lepas baju seperti ini karena kami menangis ketika mengingat Lebaran kemarin kami sedih ditangisi anak-anak kami, nggak bisa beli baju, nggak bisa beli kue Lebaran karena gaji tidak diberikan dan THR pun hanya diberikan sebagian. Kami tidak ingin terulang lagi tahun ini,” ceritanya.

Dirinya melanjutkan, saat ini masih ada sekitar 1500 pekerja PT Simoplas yang dirumahkan. Dengan mediasi tripartit yang dihadiri perwakilan pekerja, perusahaan, dan Disnaker tersebut diharapkan bisa menemui titik terang sebelum Lebaran 2017.

Rencananya, mereka nanti akan melanjutkan aksi dengan roadshow untuk mendorong semua pihak agar bisa bersama-sama menyelesaikan persoalan tersebut. Intinya para pekerja menuntut Lebaran tahun ini mereka ‘bisa beli baju’ dan persoalan pekerja Simoplas yang dirumahkan bertahun – tahun bisa selesai sebelum Lebaran.

Zainudin menjelaskan, selama ini untuk gaji yang menjadi hak pekerja dan belum dibayarkan perusahaan terhitung sejak April 2015 hingga kini. Sedangkan untuk BPJS ketenagakerjaan, mereka tidak menerima sama sekali lantaran diduga pihak perusahaan belum menyetorkan potongan dari pekerja kepada BPJS.

“Termasuk teman-teman yang sudah meninggal, yang sakit berkepanjangan, atau yang sudah keluar, mereka belum bisa mengambil Jaminan Hari Tua (JHT) nya, karena masih ada tunggakan yang harus dilunasi perusahaan. Sampai saat ini pun belum dilunasi juga, mulai dari Oktober 2015 tidak dibayarkan,” katanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *