KN Semarang : Komunitas ‘Paket Lengkap’

(istimewa/doc)

SEMARANG (asatu.id) – Sesedikit apapun rezeki yang diterima, selama dari usaha sendiri akan lebih nikmat dan berkah. Pemikiran inilah yang mendasari terbentuknya Komunitas Ketimbang Ngemis Semarang (KN Semarang).

Diinisiasi oleh Rizky, seorang mahasiswa Yogyakarta yang saat ini bermukim di Jakarta. KN resmi terbentuk pada tanggal 18 Juni 2015. Meski tergolong baru, komunitas ini telah tersebar di 33 kota se-Indonesia.

Agenda rutin komunitas ini salah satunya adalah donasi. Donasi ini dilakukan setelah melewati tahap survei karena ternyata ada yang berdagang keliling itu sebenarnya kaya dari segi materi, hanya saja nganggur atau tak punya kegiatan di rumah.

“Kami melakukan survei agar donasi ini benar-benar dipilih dan disalurkan ke pihak yang membutuhkan, amanah ini,” tutur Erik, ketua komunitas saat berbincang dengan asatu.id, Selasa (21/2) malam.

Donasi yang disalurkan berupa materi yang diperoleh dari para donatur dan hasil garage sale. Garage sale yang diadakan pada minggu pertama tiap bulan, menjual pakaian layak pakai dan hasil penjualannya juga disalurkan kepada sosok terpilih yang akan memperoleh donasi.

Berkiprah sejak Juni 2015, komunitas ini telah membantu lebih dari 25 orang dengan rata-rata orang sosok terpilih per bulan. Meski begitu, mereka belum bekerja sama dengan komunitas- komunitas lain.

“Kalau soal kerja sama dengan komunitas baru mau mulai tahun ini, Semarang Runner dan PMI yang akan kami ajak. Namun kami masih akan menata sistem dan struktur kerja sebelum bekerja sama dengan pihak luar,” kata Erik.

Selain donasi dan garage sale, ada juga gathering komunitas KN se-Jateng DIY yang bersifat umum dan melibatkan volunteer. Volunteer yang bergabung telah terlibat dahulu di kegiatan komunitas sehingga mereka bisa terus berkomitmen dan berkontribusi aktif dalam setiap kegiatan.

Komunitas KN Semarang terdiri atas anak-anak muda dengan beragam profesi, mulai dari mahasiswa sampai dokter dan arsitek. Hal ini yang menjadi keunggulan komunitas ini.

Apabila ada yang sakit, ada dokter yang siap mengobati. Apabila mau membangun rumah, ada arsitek yang siap membantu mendesain. Tapi di sisi lain, keberagaman profesi ini ternyata juga menjadi kendala bagi keberlangsungan kegiatan komunitas.

“Ini soal waktu, kerjaannya beda pasti luangnya juga beda, jarang bisa ngumpul di satu waktu dan banyak. Makanya, kami sering diskusi bahas gimana enaknya, biar bisa tetap ngobrol,” ucap Erik.

Selain soal waktu, alat transportasi kadang juga jadi masalah, terlebih jika untuk mengurus donasi. Namun sementara ini masih bisa diatasi dengan kerja sama antar anggota komunitas lainnya.

Faisal, salah seorang anggota komunitas mengatakan, alur penyaluran donasi di KN sangat jelas dan tepat sasaran. Selain itu, para anggota komunitas juga merasa senang bisa mendonasikan apa yang dipunyai untuk membantu orang lain. Di sisi lain, dari kegiatan di komunitas ini jadi bisa belajar lebih mensyukuri hidup dan berempati kepada sesama.

“Harapan saya ke depannya akan lebih banyak lagi orang yang terbantu dan kebutuhannya terpenuhi. Selain itu semoga usaha pemerintah dalam meminimalisasi pengemis semakin ringan,” pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *