Melestarikan Budaya Membatik Sejak Dini

SEMARANG (asatu.id) – Batik merupakan warisan budaya yang harus terus dilestarikan, salah satu caranya adalah mengenalkannya pada anak anak. Inilah yang dilakukan puluhan anak anak TK Labschool Unnes diajarkan cara membatik.

Suasana riuh mewarnai proses belajar membatik yang dilakukan oleh siswa siswi TK labschool Unnes pada Senin 30 januari 2017 di pelataran sekolah.

Para siswa tersebut diajarkan belajar membatik jenis batik jumputan. Dengan didampingi orang tua dan guru, anak anak ini diajari membatik di sebuah kaos putih polos.

Pertama tama, anak anak ini diajari cara memutar kaos atau yang disebut menjumput kaos dengan cara memutar> inilah mengapa batik ini disebut dengan batik jumputan. Setelah itu bagian lengan diikat dengan karet dan dibikin menjadi beberapa ikatan. Bisa juga kaos kaos tersebut dibungkus dengan kelereng agar nanti ketika di oleskan pewarna  hasilnya ada variasi lain.

Setelah proses menjumput selesai, kaos kaos tersebut langsung diolesi dengan beberapa jenis pewarna yang sudah disiapkan. Biasanya batik jenis jumputan pewarnanya dilakukan dengan cara dicelup. Namun agar lebuh mudah dilakukan anak anak, maka prosesnya dilakukan dengan bantuan kuas.

Kepala Sekolah TK Labschool Unnes, Ismuwati  mengatakan belajar membatik ini memang sengaja dilakukan sebagai upaya melestarikan warisan nenek moyang, atau yang dalam bahasa jawa disebut nguri nguri budaya sejak dini. “ Kami memang memasukkan agenda belajar membatik ini kepada anak anak sejak usia dini, agar mereka mengenal batik dan tau bagaimana proses membatik ini dari bahan hingga menjadi batik dan sudah siap digunakan”, ujarnya saat mendampingi para siswa saat membatik.

Setiap tahun di acara acara tertentu tambah Ismu, TK labschool selalu memasukkan agenda membatik dengan jenis batik yang berbeda-beda. “Tahun lalu kita ajarkan belajar membatik cap pada anak-anak.Kalau kali ini kita pilih batik jumputan”, tambahnya.

Batik jumputan sengaja dipilih karena dianggap lebih mudah dan simple untuk anak anak usia 4 hingga 6 tahun. “Batik jumputan lebih simple dan tidak memakan waktu banyak”, ungkapnya.

Para siswapun mengaku senang dengan kegiatan belajar membatik yang memang baru pertama kali dilakukan oleh mereka. Fidelya (4,5) mengaku senang dengan belajar membatik ini karena ia bisa bermain dengan beragam warna. “Aku senang banget bikin batik ini, soalnya aku bisa warnai macam macam”,

aku di bantu bunda, bisa membatik bareng temen temen, ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan siswa lain, Asya (4). “Aku membatik dibantuin mama. Trus aku kasih warna kuning sama hijau”, ungkap siswi berwajah oriental tersebut.

Proses belajar membatik ini memang dipilih jenisnya yakni batik jumput,/karena dianggap sebagai proses yang paling mudah dan simple. Selain itu waktu membatiknya pun terbilang tidak memakan waktu lama.

Setelah kaos kaos tersebut dioleskan pewarnadengan  mengunakan kuas atau suntikan. Kaos kaos tersebut kemudian dijemur selama satu hari agar warnanya bisa awet dan tidak luntur.

Harapannya, selain anak anak ini mengenal batik dan proses membatiknya sejak dini, juga bisa menjadi wirausaha untuk para orang tua atau bisa juga ditawarkan kepada warga lain yang ingin membuka usaha batik.(AC)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *