Babat Alas Wonomarto Diharap Bisa Jadi Motivasi Pedagang

SEMARANG (asatu.id) – Peresmian Pasar Peterongan baru ditandai dengan beberapa rentetan acara. Sebagai wujud syukur, para pedagang Pasar Peterongan mengadakan acara eksklusif wayangan semalam suntuk di pelataran area Pasar Peterongan tepatnya dibawah Pohon Asem. Babat Alas Wonomarto jadi tema yang diangkat untuk menghibur para penonton, Kamis malam, (26/1).

Ketua Panitia Penyelenggara, H Syukron mengatakan, syukuran dengan tanggap wayang kulit ini inisiatif dari pedagang. Sebelumnya siang hingga sore hataman quran, tahlil, dan doa bersama. “Dan dilanjutkan malam ini wayangan dengan tema Babad Alas Wonomarto, oleh dalang Ki Joko Gatot Koco,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Ketua Panitia Penyelenggara, H Syukron mengatakan, sebelum acara puncak, yakni pagelaran wayang kulit, diadakan beberapa acara dari pagi hingga malam. “Persiapan mulai jam 8 pagi. Kemudian dialanjut khataman quran, tahlil, dan doa bersama. Dilanjutkan malam ini wayangan dengan tema Babad Alas Wonomarto, oleh dalang Ki Joko Gatot Koco,” ucapnya.

Pihaknya mengatakan syukuran dengan tanggap wayang kulit ini inisiatif dari pedagang dan beberapa penyumbang yang tidak mau disebut namanya. “Syukuran ini karena pedagang bisa kembali masuk ke pasar dan kembali bisa mencari rezeki di pasar yang baru”, ujarnya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu berharap Wayangan bertema Babat Alas Wonomartomo ini bisa memberikan motivasi bagi semua pedagang Pasar Peterongan. Sehingga pedagang semakin sejahtera. “Harapannya rezeki pedagang semakin lancar dan melimpah. Pasar resik rejekine yo apik,” katanya

Mbak Ita, sapaan akrabnya, mengatakan, bahwa dalam pembangunan pasar baru ini mungkin pemerintah masih memiliki kekurangan. Namun, ia membolehkan agar pedagang bisa memaklumi dan kemudian bisa mengkomunikasikan dengan Dinas Perdagangan dengan cara rembukan. “Kalau misal ada kekurangan, nanti pedagang bisa melapor. Rembukan bareng”, terangnya.

Selain itu, Wawali berpesan agar para pedagang mampu menjaga kebersihan dan ketertiban Pasar. Sehingga Pasar yang sudah indah tersebut, menurutnya, bisa nyaman. “Saya ingin, pedagang bisa merawat Pasar ini. Jangan malah banyak digelantungin kaos-kaos, kan mboten enak disawang. Saya juga pengen pedagang menganggap Pasar ini rumah keduanya pedagang”, tukasnya.(HP)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *