Orang Cacat Yang Berbakat

Azalika Septiyaning Lestari, difabel dengan bakat luar biasa (Joy Tevin/asatu.id)

Semarang (asatu.id) – Mempunyai kelainan fisik atau mental tidak boleh menjadi hambatan untuk mencapai impian dan cita-cita. Di luar sana banyak sekali orang-orang berkebutuhan khusus yang tidak berhenti mengejar cita-cita dan mengabaikan ketidaksempurnaan kondisi fisiknya.

Azalika Septiyaning Lestari (22) adalah salah satu dari orang-orang hebat tersebut. Seorang wanita sederhana, penderita kelainan tulang cerebral palsy yang memiliki keinginan yang sangat unik, terlebih di bidang sains.

“Saya itu suka sekali dengan sains dan karya ilmiah, bisa dibilang sudah jadi hobi saya untuk meneliti apapun yang terlintas di otak saya,” katanya saat berbincang-bincang dengan asatu.id di acara Festival Kuliner Imlek di Mall Sri Ratu Semarang.

Anak dari pasangan Sri Nugroho (53) dan Wiji Lestari (50) yang pernah menjuarai olimpiade sains tingkat Kota Salatiga dan berhasil masuk peringkat 5 besar lomba karya ilmiah tingkat Provinsi Jawa Tengah ini berkeinginan untuk melakukan penelitian terhadap air laut.

“Saat ini saya sedang meneliti air laut. Saya ingin merubah air laut menjadi bahan bakar minyak (BBM) karena saya pikir BBM dari minyak fosil bisa habis dan saya ingin memanfaatkan air laut karena Indonesia itu negara maritim, punya banyak sekali air laut,” jelasnya.

Ika sapaan akrabnya menjelaskan, bahwa kegemarannya di bidang sains dimulai sejak menduduki bangku sekolah menengah pertama (SMP).

“Awalnya dari ikut olimpiade sains, lalu waktu kelas satu SMA saya ditawari kakak kelas untuk ikut lomba karya ilmiah. Saya beranikan diri untuk mencoba walaupun agak minder karena kondisi fisik saya yang terbatas,” katanya.

Percobaan pertamanya yaitu mengubah air bekas cucian menjadi air bersih menggunakan alat sederhana, botol plastik bekas, pasir, batu-batuan dan jerami. Yang kedua, percobaan menggunakan daun cincau untuk obat diet.

Dari situ Ika mulai menggemari penelitian yang membawanya berpikir untuk mencoba inovasi baru yaitu merubah air laut menjadi BBM dengan metode penyulingan menggunakan alat suling berukuran 0,01 micron.

“Pernah suatu ketika saya bereksperimen sendiri membuat tepung dari biji mangga. Awalnya teman-teman saya meremehkan. Tapi saya berhasil membuktikannya,” ujarnya bangga.

Siapa yang menyangka, seorang difabel dengan segala keterbatasannya mempunyai pola pikir yang lebih maju dari seorang normal. Akan sangat disayangkan jika suatu impian berhenti ditengah jalan diakibatkan tidak adanya dukungan dari pemerintah maupun masyarakat.

“Saya sangat berharap kepada pemerintah supaya lebih memperhatikan kaum difabel dan memberi dukungan baik moral maupun material kepada kami untuk mengembangkan potensi dan bakat yang kami miliki,” tambahnya. (HP)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *