Miroto, Sentra Pembuatan Barongsai di Semarang

IMG_3419

SEMARANG (asatu.id)- Menjelang perayaan Imlek 2017, beragam pernak-pernik khas budaya Tionghoa mulai bertebaran di kawasan Pecinan Kota Semarang. Mulai dari souvenir, hio hingga replika barongsai dan liong dengan mudah dijumpai di pinggir jalan kampung Cina tersebut.

Imlek atau tahun baru Cina tidak bisa dipisahkan dengan namanya Barongsai. Di Semarang terdapat pengrajin barongsai tertua dan masih aktif yaitu Sutikno.

Meski usianya telah senja, Sutikno tampak berkreasi menggoreskan pola-pola warna pada kepala barongsai. “Saya merupakan perakit barongsai tertua di Semarang, saya mendirikan usaha ini sejak tahun 1978,” terang Sutikno, Kamis (19/01).

Bagi Sutikno, dalam mendesain kepala barongsai tak bisa asal-asalan. Ada tehnik khusus agar kepala barongsai terlihat kokoh saat dimainkan. “Kita dalam membikin barongsai tidak mau asal jadi, karena kami mengutamakan kualitas. Begitu pesanan selesai semua kita baru terima lagi. Tidak bisa sembarangan membuat barongsai,” ungkapnya saat ditemui asatu.id Jl. Seteran Tengah I, Semarang.

Biasanya, lanjut Sutikno barongsai barongsai yang di bikin sudah dipasarkan diseluruh Indonesia. “Untuk saat ini kami tidak melayani banyak pesanan, kami hanya membatasi 10 saja perbulan, karena kondisi saya yang sudah ngak fit lagi,” katanya.

Untuk menciptakan satu ekor barongsai pihaknya membutuhkan waktu satu minggu. Cuacapun ikut ambil bagian dalam proses lamanya pengeringan.

“Saya dibantu oleh 4 karyawan yang bertugas untuk menciptakan barogsai yang sesuai dengan keinginan para pelanggan,” pungkasnya.

Agar kokoh saat dipakai atraksi, barongsai dibuat dari rotan dan kayu pilihan. Barongsai buatannya sejak lama telah mahsyur di berbagai kota Indonesia karena kualitasnya terjamin.

Dengan bobot total 3 kilogram, pihkanya menjual sebuah barongsai seharga mulai dari Rp 2 juta. “Sedangkan untuk kepala barongsai yang terbuat dari bulu domba dijual Rp 5 juta,” ucap Sutikno.

355

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan