Sepinya Penghasilan Jukir Saat Hujan

IMG_3103Semarang (asatu.id) – Dari Sayung (Demak) menuju Jalan Hayam Wuruk, Pleburan, Kota Semarang untuk mengatur kendaraan agar tetap rapi di pinggir jalan adalah pekerjaan Agus sehari-hari sebagai juru parkir (Jukir) resmi Kota Semarang.

Dimusim hujan kali ini, rezeki Agus sebagai penjaga kendaraan parkir menjadi sepi karena minimnya kendaraan yang menggunakan pinggir Jalan Pleburan untuk parkir. Ini lantaran seringnya hujan turun yang menyebabkan pengendara enggan menggunakan kendaraan saat bepergian.

“Kalo hujan yang parkir sepi, jadi penghasilan juga ikut sepi. Apalagi kalau tarif pajak retribusi (atau uang setoran) naik, saya tidak bisa apa-apa,” keluh Agus kepada asatu.id akhir pekan lalu.

Agus memulai bertugas dari jam 4 sore sampai jam 10 malam. Namun sekiranya jam 9 malam parkiran sudah dirasa sepi, Agus pun bergegas untuk pulang. Setiap malam Agus mendapatkan penghasilan sebesar Rp 60-70 ribu jika ramai, itu pun masih harus dipotong untuk setor ke Dinas Perhubungan sebesar Rp 15 ribu.

“Untuk menjadi juru parkir resmi kita harus mendaftar ke Dinas Perhubungan, lalu menunggu untuk diverifikasi. Setelah lolos kita akan mendapatkan kartu tanda anggota (KTA) dan surat keputusan (SK) resmi sebagai juru parkir,” tutur Agus.

Agus menambahkan, setiap tahunnya juru parkir dibawah Dinas Perhubungan harus memperpanjang KTA dan SK yang dimiliki sebesar Rp 70 ribu. Untuk pendaftaran dan perpanjangan, setiap juru parkir harus melampirkan berkas kelengkapan seperti alamat lokasi tempat parkir dan daftar retribusi kepada Dinas Perhubungan. (Imboh Prasetyo)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *