Dibutuhkan Pengawalan Dinas Untuk Menunjang Kampung Tematik

kampung-tematik-400x241-32p2srx9173deb2f4s5n2iSEMARANG (asatu.id) – Kampung tematik diharapkan tidak hanya sampai berhenti pada tatanan out put (produk) saja. Tetapi, harus mampu menyentuh income (penghasilan) yang memberikan manfaat dari keunggulan potensi kampung tematik itu sendiri.

Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi B DPRD kota Semarang Anang Budi Utomo, bahwa perlu adanya pengawalan agar efek dari kampung tematik bisa dinikmati oleh masyarakat di kampung tematik tersebut.

“Misal Kampung Batik, Kampung Agrobisnis, Kampung Jajanan Pasar, selama ini sudah dilakukan pembinaan hanya pada tatanan input, proses, dan output saja. Belum menyentuh income, lha ini bagaimana selanjutnya masyarakat yang sudah mengahasilkan produk bisa diterima oleh masyarakat dan stake holder,” terangnya.

Dirinya melihat dari berbagai pelatihan, bimbingan, dan workshop pendampingan kepada masyrakat dan kelompok hanya berhenti pada tatanan outputnya saja. Ia menaksirkan dari 100 orang yang dilakukan pendampingan hanya sukses sampai program income tidak sampai 10 persen yang berhasil memasarkan produknya.

“Kalau hanya sekedar dilatih, didampingi lalu menciptakan produk, ya akan berhenti disitu saja. Mereka bakal kebingungan bagaimana cara pemasarkannya,” ucapnya.

Pihaknya meminta kepada Pemerintah Kota Semarang melalui beberapa dinas terkait seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pemuda dan Olah Raga, Dinas Koperasi dan UMKM, Disnakertrans, serta Bapermasda untuk bisa saling bersinergi dalam memberikan pendampingan pada masyarakat di kampung tematik.

“Disnakertrans dan Dinkop UMKM bisa sebagai input, proses, dan output. Lalu Disperindag yang menangani sampai pada permasalahan pemasaran atau incomenya,” paparnya.(AC)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *