Pro Kontra Pabrik Semen Indonesia Terus Berlanjut

20161209_144133SEMARANG (asatu.id) – Masyarakat pro pembangunan pabrik PT Semen Indonesia sangat menyayangkan jika pabrik semen milik Indonesia itu tidak beroperasi. Hal tersebut dikarenakan, dampak PT Semen Indonesia telah banuak dirasakan warga sekitar pabrik dan penambangan.

Achmad Michdan Selaku Ketua tim advokasi penyelamat aset negara, mengatakan, bahwa keberadaan pabrik semen akan mempunyai prospek kedepan bagi masyarakat dan negara.

“Banyak warga yang mendapatkan kesempatan kerja, dan masyarakat telah menerima manfaat CRS dari pabrik yang nilainya melebihi Rp 41 miliar untuk bantuan kepentingan umum, pembangunan air bersih, pembangunan air desa, pipanisasi, bedah rumah, pembangunan MCK, bantuan kesehatan gratis, operasi amandel, dan bibir sumbi,” terangnya.

Mengenai putusan PK yang menjadikan persoalan selama ini, pihaknya mengatakan bahwa dalam diktum (pernyataan resmi) putusan hanya terbatas pada menyatakan batal SK Gubernur Jateng no. 660.1/17 2012, tertanggal 7 Juni 2012, tentang ijin lingkungan. Namun sesuai pasal 50 PP No.43 2008 atau perbaikan adendum amdal yang diatur dalam pasal 40 UU no 32 tahun 2009, menurutnya pabrik dapat melakukan perubahan ijin lingkungan.

“Gubernur telah membatalkan ijin semen gresik lalu menerbitkan izin baru Semen Indonesia karena pihak pabrik telah memenuhi syarat-syarat yang diatur dalam PP no 43 tahun 2008 atau pasal 40 UU no.32 tahun 2009 dengan telah merubah RKL( Rencana Kelola Lingkungan) dan UPL ( Unit Pengelolaan Lingkungan)”, tambahnya.

Achmad mempertanyakan, keberadaan aktifitas penambangan galian c yang sudah kurang lebih dari 20 tahun yang sudah membuat cekungan besar di banyak lahan tanpa adanya reklamasi, tidak mendapatkan protes dari pegiat lingkungan baik dari LSM, maupun pemwrintah daerah dan pusat.

Sementara itu, Dwi Joko Supriyanto, salah satu warga Desa Tegaldowo menerangkan, bahwa warga desanya yang lebih dari 6000 jiwa merasa pro dan sangat menginginkan pabrik segera beroperasi.

“Letak penambangan 2/3 ada di Tegaldowo, 95% warganya ingin pabrik segera beoperasi. Dari lima desa, yakni Kadiwono, Kajar, Pasujan, Timbrangan, dan Tegaldowo konflik hanya terjadi di Timbrangan dan Tegaldowo, selebihnya pro. Dari total warga lima desa  12.000 jiwa, 95% pro pabrik,” tukasnya.(AC)

95

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *