Bukti Rekaman CCTV Tidak Ada Indikasi Tawuran Antara SD Pekunden dan SD Al Khotimah

20161125_102456SEMARANG (asatu.id) – Proses investigasi kepolisian terkait dugaan kasus tawuran antar pelajar antara SD pekunden dan SD Al Khotimah beberapa hari lalu yang sudah menyita perhatian publik akhirnya mencapai endingnya. Investigasi tersebut telah memperoleh hasil dan dugaan tawuran yang menyebabkan tekanan psikologis bagi dua siswa yang ditangkap yakni BM (11) dan AL (8) tersebut akhirnya tidak terbukti.

Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu bersama Dinas Pendidikan Kota Semarang saat konferensi pers di ruang kerjanya, balai kota, Jumat (2/12).

Mbak Ita, sapaan akrabnya, menyampaikan, setelah dilakukan pemeriksaan dan penyelidikan oleh pihak kepolisian Sektor Semarang Tengah dan Polrestabes Kota Semarang tidak ditemukan terjadinya bentrokan fisik yang identik dengan kejadian tawuran.

“Dari pemeriksaan Polsek Semarang Tengah yang mendampingi para siswa pelaku, diketahui tak ada benturan fisik sehingga tidak terjadi tawuran seperti dalam pemberitaan media sebelumnya,” katanya.

Sedangkan, dugaan alat atau senjata tajam berupa parang juga bukan milik para siswa SD tersebut. Hal itu, setelah dilihat dari rekaman CCTV dari Taman Pandanaran dan milik restoran cepat saji KFC Pandanaran. “Ada satu anak berusia sekitar 12 tahun dengan rambut bersemir pirang membawa senjata tajam dan bukan dari kelompok para siswa. Parang tersebut ditemukan di bawah pohon Taman Pandanaran,” paparnya.

Terkait keberadaan para siswa di Taman Pandanaran itu dikatakan hanya untuk bermain. Tapi langsung berlarian melihat ada temannya yang ditangkap satpam kantor sekitar taman yang mengira akan ada tawuran antar siswa tersebut. Ita mengatakan saat itu gerombolan anak-anak merasa takut saat didatangi tanpa alasan, sehingga berlari.

“Sehingga pihak kepolisian telah mengehentikan kasus hukum ini, karena tidak terbukti tanda indikasi-indikasi penyerangan atau tawuran,” paparnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin, menambahkan, kejadian segerombolan siswa mendatangi SDN 1 Pekunden dikarenakan adanya antar teman sekampung yang berbeda sekolah tersebut saling ejek dengan menantang untuk berani mendatangi sekolah tersebut atau tidak.

Untuk menghindari kejadian serupa terulang lagi, pihak Pemerintah Kota Semarang akan membentuk program Psikolog Keliling Sekolah. Rencananya akan efektif berjalan di 2017. Para psikolog ini akan membantu para guru dan siswa untuk pendidikan karakter dan parenting.

“Sebagai program preventif maka pemkot akan memberikan bimbingan Psikolog Keliling Sekolah. Mungkin saja anak-anak punya masalah sendiri, guru punya masalah sendiri, atau ada masalah keluarga pada si anak didik yang bisa saja terbawa menjadi masalah di sekolah. Psikolog ini yang akan membentu baik dari pendidikan karakter maupun parenting,” pungkas Ita.(JPL)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *